Selasa, 12 Januari 2016


Tentang esok yang begitu indah...
Tentang hari yang menyenangkan...
Tentang waktu yang tak berhenti menari...
Bukan kesemuan...
Ketika jantung masih berdetak...
Itulah  bahagia... 







Rabu, 15 Agustus 2012

The Best Teacher

Dan perjalanan selalu memulai. Tetap seirama meski dengan nada yang berbeda. Mungkin itu suatu pengalaman.

Kamis, 24 Mei 2012

It's all about way: Sajak Budaya

It's all about way: Sajak Budaya: Peradaban semakin lama semakin berkembang. Teknologi semakin canggih dan pemikiran manusiapun mulai berevolusi. Namun, semakin lama o...

It's all about way: Goresan Putih di Jalan Abu-abu

It's all about way: Goresan Putih di Jalan Abu-abu: Setiap orang, mampu merasakan kesenangan dengan sudut pandangnya sendiri. Rasa senang itu akan berbeda satu dengan yang lainnya, namun perb...

It's all about way: I want to thank you.....

It's all about way: I want to thank you.....: Best day of my life Ibu... Sosok yang begitu menenangkan, sangat perhatian dan penuh kasih sayang. Dalam setiap nafasnya selalu terpa...

It's all about way: FESTEJO 2012 “Pahlawan Kampung”

It's all about way: FESTEJO 2012 “Pahlawan Kampung”: Seleksi Terbuka Festival Teater Jogja 2012 “Pahlawan Kampung” Yogyakarta, 25 Mei 2012. Taman Budaya Yogyakarta akan menyelenggar...

Jumat, 27 April 2012

"Jalan Simpang Lima"

Persimpangan adalah suatu percabangan. Percabangan belum tentu persimpangan. Bila sedang berada di tengah-tengah persimpangan, arah mana yang akan diambil? Tentunya arah yang akan dituju. Lantas bagaimana  apabila arah persimpangan itu menunjukkan semua arah yang akan kita tuju? Tetap terdiam dan berfikir mana  jalan yang akan dituju? Itu sedikit membuang waktu.
Biarkan kaki ini, pikiran dan hati ini bergerak secara alami menuju jalan itu..........

Sabtu, 14 April 2012

TARUHAN BERENCANA

               Mentari tersenyum menebarkan benih kehangatan mengantarkan kakiku menapakki jembatan masa depan. Aku diterima di SMA 3B lho….! Baturetno Banguntapan Bantul, yaitu sebuah sekolah yang terletak tepat di depan rumah masa depan. Pengumuman ruang kelas tertempel rapi di depan pintu-pintu kelas. Semua mata tertuju di situ mencari sebuah nama pribadi untuk mengetahui di manakah akan menghuni. Kakiku terus melangkah dan mataku terus mengarah pada daftar nama, hingga kuterhenti di depan kelas yang terletak paling ujung yaitu X F.
            Mataku menatap bangku demi bangku dan kuputuskan duduk di bangku tengah nomor tiga. Kududuk menyebelahi teman baruku yang kurus dan tinggi. Dengan gaya sok manis, kuulurkan tanganku sembari menanyakan namanya.
            “Hai, aku duduk di sampingmu ? Kenalin ya, aku Arni Kirani panggil aja aku Rani. Kalau kamu namanya siapa?”
            “Aku Arisa kamu duduk aja sama aku, nggak ada yang melarang kok!”
            ”O.K, deh......! Dengan senang hati aku akan duduk denganmu. Tapi kamu harus maklum lho kalau duduk di sebelahku. Aku tuh orangnya jahil, cerewet dan nggak bisa diem. Gimana masih tertarik nggak duduk sama aku?”
            ”Malah asyik tuh daripada duduk sama patung arca yang diem aja. Garing tau...! jawabnya singkat.”
            Itulah perkenalan singkat yang ikut serta mengantarkan perjalanan persahabatanku. Nggak cuma dengannya, tapi dengan semua warga kelas XF. Akukan masuk di kelas yang mempunyai solidaritas tinggi. Begitu masuk aja, kecemasan berubah drastis menjadi sebuah kebahagiaan. Meskipun kelas kita tidak menjadi kelas teladan yang penting kekompakkan kita patut diteladani. Asal kalian tahu, akulah yang paling kompak, rame dan berisik lho......! All start is difficult but I wise that I can be better than yesterday. Yah, Cuma itu harapan kecil yang kuinginkan di kelas ini.
            Saat mentari berganti bintang dan rembulan, sunyi mencekam membawaku terlelap ke alam mimpi. Tanpa kusadari, jalan yang kulalui telah panjang hingga hampir membawaku menuju percabangan jembatan masa depan. Di sela-sela hari penantian itu juga diadain camping di Kedung Seriti Kaliurang. Sebenernya sih diadain waktu kakak kelas UAN tapi diundur.
            Yah, itung-itung nguras otak yang memorinya sudah dipenuhi mata pelajaran. Juga buat nenangin hati yang ”deg-degan“ menanti kenaikkan. Kira-kira aku bisa melewati percabangan jembatan masa depan nggak ya? Ah sudahlah, mendingan seneng-seneng. Pokoknya optimis aja deh. Aku yakin aku bisa, walaupun hanya berada di cabang yang sempit tetap lumayanlah.          
            Ehm... ehm..., promosi dikit boleh dong! Aku masuk kelompok yang gokil, jahil, usil tapi nggak suka ngupil lho! kitakan udah punya upil. Kelompok yang selalu tertawa, ceria, suka tapi bukan berarti gila. Terdiri dari tujuh orang yang seperti permen Nano-nano. Bukan kemenangan yang kita cari, namun solidaritas, persahabatan, kekompakkan dan rasa saling menghargai serta menayangi.Cie........ sok banget ya! Iya dong kitakan kompak, unik, menarik tetapi selalu berisik. Jika nanti ada yang terusik silahkan hubungin kita dari Dewi Sartika.
            Kita suka segala sesuatu yang simple, nggak ribet tapi tetap fleksibel. Tahu nggak, persiapan camping kita cuma tiga hari lho. Selama itulah kita membuat pagar, gapura dan meminjam tenda. Mepet sih memang, yang pentingkan selesai.
            ”Arni, kayaknya nggak seru deh kalau di sana nggak diisi dengan kejahilan-kejahilan kecil,“usul Nelsi sang ketua regu.
              Akhirnya kita semua sepakat bahwa dalam satu hari aku, Nelsi dan Arisa harus buat cowok GR sedangkan yang lainnya sebagai saksi. Cowoknya sudah ditentuin lho. Hampir semua cowok yang dipilih itu cowok playboy dan cowok nyebelin yang patut dikerjain. Barang siapa yang gagal maka harus menjadi pembokat yang patuh dan setia kepada majikkannya. Ih, aku nggak boleh gagal. Males bangetkan kalau harus bersih-bersih, nyuci piring, nyapu dan lainnya.
            Nelsi ketua regu kita mendapat jatah Ian tapi Nelsi memanggilnya mas kaki mulus karena kakinya yang mulus. Cowok yang nggak berdosa tetapi merana karena menjadi korban taruhan. Arisa dengan Ari, seorang cowok setia tapi sok cool. Sedangkan aku sama dengan Nelsi. Langkah awal aku dan Nelsi ngledek dia dengan sebutan Mas Kaki Mulus dan kita menang. Tanpa sepengetahuanku ternyata temen-temen berencana buat jomblangin aku sama yang namanya Ian.
             ”Ah, sial aku kalah! Akting Arisa di hari pertamanya.“ Menurut skenario dia harus mengalah.
`           Aduh kasihan deh Arisa harus menjadi pembokat dalam sehari. Tinggal aku dengan Nelsi nih. Kita semakin deket dengan Ian. Saat malam pertama, kita gangguin Ian. Kita intip dia lewat celah-celah tenda sambil makan kacang. Seru banget deh, inilah yang kita sebut Bioskop Kaliurang. Saat sedang asyik-asyiknya melihat Bioskop, tiba-tiba Iryn kentut keras sekali dan tenda kitapun gempar.
            Seperti yang telah disebutkan saat promosi tadi bahwa barang siapa yang terusik langsung hubungin kami. Tetangga sebelah langsung berteriak silent please!. Kita semua malah tertawa mendengar teriakkan dengan suara pecahnya. Boleh juga, yah bisa buat ular kabur. Hahahaha.......!
            ”Arni, kamu nggak takut apa kalau tiba-tiba Ian suka sama kamu atau jangan-jangan kamu juga suka sama dia. Aku perhatiin, kamu semakin deket aja nih. Aku yakin banget dari sikap dan tatapannya tuh, dia ada hati sama kamu, kata Arisa.“
            ”Ih, kamu tuh ada-ada aja deh. Mana mungkin sih aku suka sama dia. Tujuan awalnya aja aku Cuma mau ngerjain dia, jawabku mengelak.“
            ”Ingatkan bahwa Imposible is nothing! Ingat juga karma Take and Give. Jadi, Waspadalah....Waspadalah..........!“
            ”Arisa sayang aku tegasin yah, aku nggak suka sama Ian bahkan aku sebel banget sama dia. Masak aku bisa suka sama orang yang aku sebelin. Nggak mungkinkan?“
            ”Aduh mbak, bukankah benci itu deket sama cinta. Aku bisa jamin kamu pasti suka sama dia. Yah mungkin sekarang kamu belum merasakannya. Tapi kenal dia betul, kamu pasti suka deh, kata Arisa menasihatiku.“
            Memang, tidak semua yang kita inginkan terwujud. Namun aku yakin bahwa segala sesuatu yang terwujud itulah yang terbaik. Yah... meskipun nggak kita inginkan. Kalimat itulah yang dicetuskan Nelsi karena kalah pada hari kedua ini. Sudah jelaskan masalah bikin GR cowok akulah jagonya. Arni gitu loh.......!
            Sepi tak pernah menyelimutiku meski tanpa orangtua. Gimana mau sepi orang setiap hari usil melulu. Kitakan nggak pernah diem, justru orang-orang pada heran kalau lihat kita diem. Meskipun aku sudah menang bukan berarti hati tenang. Teman-teman selalu berkata bahwaIan suka sama aku. Aku jadi tambah sebel sama tuh cowok. Nggak ada yang menarik tuh dari dia. Kok bisa ya ada yang bilang dia baik, manis dan nggak neko-neko.
            Inilah udara pagi terakhir yang kuhirup. Burung-burung berkicau mengiringi mentari yang sinarnya terpancar menghapus kabut.
            ”Pemandangannya bagus sekali yah? Hamparan daun-daun hijau meneteskan embun menyegarkan mata yang melihat.“
            Tiba-tiba Ian berkata di belakangku. Akupun langsung menyapanya. Dalam hatiku bertanya-tanya tumben dia berkata halus padaku. Uh....... puitis juga. Akupun tak mengalihkan pandanganku darinya.
            ”Kamu kedinginankan? Nih pakai aja jaketku! Perintahnya.“
            Wauw..... perhatian banget. Aku jadi mulai suka sama dia. Sepertinya aku kualat sama temen-temen deh. Aduh gimana nih! Ya sudahlah, aku memang suka sama dia. Kapan ya dia tembak aku? Pasti aku terima kok. Kemarinkan dia tanya aku sudah punya cowok belum. Pasti dalam waktu dekat ini dia tembak aku. Amin...........!
            ”Kok dari tadi bengong sih....! Daripada bengong mending kamu jawab pertanyaanku yah! Masak dari tadi kutanya malah senyum-senyum.
            ”Pertanyaanmu? Emangnya kamu mau tanya apa? Jawabku singkat.“
            ”Aku mau tanya tapi kamu jawab dari hatimu ya?”
            ”Dari hati gimana? Kok rumit sih, tapi aku jawab sebisa mungkin deh!“
            ”Ntar kamu juga tahu maksudnya dari hati. O iya, langitnya cerah banget ya? Kamu tahu nggak hatiku saat ini bisa menjadi cerah secerah langit itu tetapi dengan seketika dapat juga seperti langit yang mendung. Kamu tahu nggak apa yang bisa membuatnya demikian?“
            ”Enggak tahu tuh! Emang cerah karena apa dan mendung karena apa? Jawabku bingung.“
            ”Semua itu bisa terjadi karena seorang peri. Seorang peri yang dapat mengubah segalanya. Peri itu biasa singgah di dalam hatiku. beberapa waktu silam peri itu menghilang tetapi kini sudah kutemukan kembali dan kuingin menyuruhnya singgah di hatiku kembali.“
            ”Rumit yah...! Emang siapa yang jadi peri itu?“
            ”Kalau kamu bersedia, kamu mau nggak jadi peri yang selalu setia singgah dan menghuni di dalam hatiku?“
            ”Hah...... kamu bercandanya kelewatan yah? Aduh ternyata seusil-usilnya aku ada juga yang nyaingin.“
            ”Tapi aku serius Arni, aku ingin kamu jadi orang yang spesial buat aku. Kamu maukan?“
            ”Jujur sebenernya aku sebel banget sama kamu, aku benci sama kamu tapi aku juga nggak bisa pungkiri bahwa aku juga cinta sama kamu.“
            ”Jadi, kita resmi jadiankan?“
            Aku hanya menjawabnya dengan sebuah senyuman. Akhirrnya kutahu maksudnya. Sesuai janjiku bahwa aku akan ikuti kata hatiku. Temen-temen juga mendukungku. Apalagi yang namanya Arisa, antusias banget mendengar berita jadianku.
            ”Apa aku bilang, yang namanya benci itu dekat dengan cinta.“kata Arisa.
            ”Iya-iya, aku sekarang percaya.“jawabku.
            Ehm ….. waktu terus bergulir mengukir sebuah kenangan yang takkan terlupakan. Kenangan yang mengantarkan sebuah kisah yang tercipta karena cinta. Kisah yang membawaku belajar mengerti cinta. Kisah yang memberitahuku bahwa cinta bisa datang melalui benci. Kisah cinta yang tercipta karena taruhan berencana saat Pramuka. Taruhan berencana yang mengantarkan kita menyading cinta dalam Pramuka.
            Temen-temenku nggak sopan banget yah! Masak ngatur ini jauh-jauh hari. Saat kutanya katanya sejak awal Pramuka yang namanya Ian  itu sudah suka sama aku. Mereka mencari waktu yang tepat dan saat camping itulah mereka bertindak. Tapi nggak apa-apa. Meskipun nggak sopan tapi aku juga suka kok. Namanya juga cinta...........! Cinta yang tercipta karena Pramuka. Biasa akukan rajin berangkat Pramuka sedangkan Ian jadi DP-nya. Witring tresna jalaran saka kulina. Benerkan kata pepatah jawa. Apalagi aku ngerjain dia, jadinyakan semakin dekat. Taruhan berencana dalam Pramuka berguna lho...! Buat yang berminat coba aja atur strategi. 


Nidya TV


(#note: ini tulisan masa SMA kira-kira sekarang sudah kadaluarsa kali ya. Tapi untuk sebuah karya ngga ada kata kadaluarsa deh #anggasajabangga :D )

Jumat, 06 April 2012

I want to thank you.....

Best day of my life
Ibu...
Sosok yang begitu menenangkan, sangat perhatian dan penuh kasih sayang. Dalam setiap nafasnya selalu terpancar cahaya cinta. Cahaya itu mampu membuat bayang-bayangmu dalam setiap langkahku. Bayang-bayang itu selalu menjaga agar aku tidak melangkah di dalam langkah kegelapan.
Ayah...
Sosok kekar dengan tatapan yang begitu tajam tetapi kau tetap tampak bijaksana, tenang dan berwibawa. Kaulah pemimpinku. Tetesan air keringatmu akan menjadi sumber air  semangat yang akan membasahi setiap langkah ini sehingga aku selalu merasakan kesejukan ditengah hempasan angin yang begitu menggoda. Amarahmu adalah bentuk cinta.
Aku...
Sosok yang penuh dengan tanda tanya. Pikiranku masih liar. Pandangankupun masih merdeka. Banyak sekali jejak hitam yang selalu menghadangku. Namun bayang-bayangnya selalu menghantui langkahku di jalan abu-abu ini. Bayang-bayang yang terpancar dari cahaya cintanya sangatlah menenangkan sehingga membuatku enggan untuk mengikuti jejak hitam.

Terima kasih untuk waktu terbaik kalian. Terima kasih untuk cinta kalian........
Kapanpun dan dimanapun kita adalah seorang pembelajar...
Terima kasih untuk kado terindahmu Tuhan...
Kau telah memberiku ayah dan ibu terbaik.....



created by nTV


Selasa, 14 Februari 2012

Valentine no Fucklentine

         Seperti biasa, setiap hari adalah special bagiku. Tidak ada spesifikasi khusus karena dengan menghargai setiap hari, setiap waktu, setiap jam, setiap menit dan setiap detik berarti kita menghargai hidup kita, nafas kita. Menghargai perjalanan yang selalu menyenangkan. Rangkaian huruf yang berpadu menjadi kata dan terhubung menjadi kalimat-kalimat ini hanyalah perantara hati membaca situasi hari ini.  
        Hari ini, 14 Februari adalah hari bahagia bagi mereka yang merayakan valentine dan bagi yang sudah mempunyai pasangan hidup. Coklat, bunga, kado kejutan,pesta, belaian, kasih sayang, peluk, cium dan  cinta mewarnai hari ini. Ironisme  yang berbaur dinamis dengan jaman menjadikan suatu hal yang romantis.
        Berbeda dengan mereka yang berteman dengan kesendirian. Ironisme masa kelam berbaur dinamis menjadikan sesuatu yang egois. Itulah kabar terkini dari para jomblo diberbagi situs penjuru kota mengucapkan happy f*cklentine day atas dasar tidak punya pacar. Pada jaman terdahulu hari ini adalah hari duka karena kematian seseorang. yah... bisa dibilang perayaan valentine kalian itu bersenang-senang di atas derita orang lain. Egois! 
"Ada juga pandangan yang mengharamkan pengucapan hari ini."
         Aku memang tidak menggambarkan secara detil ketiga sudut pandang tersebut karena aku tetap dengan abu-abuku. membenarkan segala hal dari sudut pandang pribadiku. Makna dari valentine bagiku adalah suatu bentuk penghargaan atas sebuah pengorbanan dimana pengorbanan merupakan salah satu bentuk perjuangan yang mampu mendekatkan kita pada kebenaran meskipun tidak ada kebenaran mutlak di dunia ini. Dengan begitu, yuk mari kita saling menghargai. Menghargai perbedaan, menghargai orang lain adalah cara sederhana untuk menghargai diri kita sendiri.


-nTV-


Selasa, 17 Januari 2012

BELAJAR UNTUK HIDUP


Belajar merupakan suatu proses pencarian ilmu dimana ilmu tersebut nantinya akan menjadi bekal untuk melakukan suatu pengembangan diri. Dari pengembangan diri itulah nantinya akan didapatkan suatu keahlian. Belajar itu tidak mengenal usia, latar belakang, tempat dan waktu. Dimanapun dan kapanpun kita adalah seorang pembelajar.
Hal tersebut menggambarkan jelas bahwa belajar tidak harus melalui pendidikan formal. Namun mayoritas masyarakat kita sering sekali berfikir sempit mengenai arti dan makna belajar yang sebenarnya. Kegiatan belajar lebih cenderung dimaknai sebagai perolehan ilmu dibangku formal.
Orang-orang yang tidak menganyam bangku formal biasanya langsung diberi label tidak berpendidikan dan tidak berilmu. Padahal tidak semua orang beruntung bisa menganyam bangku pendidikan. Apabila belajar itu diindentikan dengan bangku formal, maka bisa dikatakan bahwa Mayoritas Rakyat Indonesia tidak berilmu dan tidak berpendidikan karena telah kita ketahui bahwa pendapatan perkapitan di Negara Indonesia masih rendah dan angka kemiskinannyapun masih tinggi.
Perlu pemikiran yang luas untuk mengetahui makna belajar yang sebenarnya.Banyaknya ilmu pengetahuan yang didapat dari bangku formal belum tentu mampu memanusiakan manusia. Semakin tinggi pendidikan formal yang diraih biasanya lebih mempersempit cara pandang. Hal inilah yang membuat bangku pendidikan formal hanya menjadi pembatas kreatifitas.
Akibat terlalu banyaknya sumber-sumber teoritis ilmu pengetahuan yang telah didapat menjadikan makna sederhana dari hal sederhana tertutup begitu saja.  Terobosan teoritis yang diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat tanpa mempertimbangkan situasi dan kondisi psikologis masyarakat mampu  menciptakan sistem-sistem dalam bermasyarakat sehingga terjadi pengkotakan lapisan masyarakat.
Masyarakat yang tidak mampu mengikuti sistem ataupun yang menolak sistem memilih memerdekakan diri dengan membentuk suatu komunitas yang dinilai sepaham contohnya komunitas anti kemapanan (punk) yang telah menjamur hampir di setiap penjuru dunia. Mereka membentuk kelompok berawal dari kawasan regional untuk saling berbagi pengalaman karena memang paham yang ada dalam komunitas mereka adalah hidup mandiri.
Tentunya kemandirian di sini dengan adanya upaya untuk menghasilkan uang. Seperti halnya komunitas anti kemapanan  di kawasan Jogja, mereka mampu hidup mandiri dengan bekerja sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Ada yang menjadi tukang semir sepatu, tukang tato di kawasan malioboro, pelukis keliling, dan berbagai kerajinan seni rupa lainnya. Bahkan ada juga yang menjadi tour guide.
Mereka tidak pernah bisa hidup dalam sistem dan pengekangan. Selama mereka dikekang, ditindas dan diperbudak oleh sistem, di situ juga mereka akan hidup dan tumbuh berkembang. Kesimpulan universal yang pertama adalah punk itu merupakan pemberontakan terhadap segala bentuk pengekangan dan pembatasan dari manusia untuk berkreasi dan beraktivitas. Bendera yang selalu berkibar tinggi dan sering sekali kita dengar yaitu merdeka atau mati.
Keahlian dan kemampuan sebagai modal usaha, mereka dapatkan dari teman-temannya. Bila ada yang bisa Bahasa Inggris, mereka belajar bersama-sama, saling berbagi, saling mengisi antara satu dengan yang lainnya. Itupun juga sukarela, jadi siapapun yang ingin belajar boleh bergabung dan yang tidak mampu boleh melakukan hal lain.
Segala kemampuan dan keahlian yang mereka miliki dipelajari secara otodidak tanpa menganyam pendidikan formal. Bagi mereka ide dan inspirasi itu selalu ada kapanpun dan dimanapun. Tinggal bagaimana kita mampu mengolah dan mengembangkan. Segala sesuatu itu berasal dari kebiasaan. Kita semua dilahirkan dalam keadaan sama-sama telanjang. Nantinya mau jadi apa kita, itu bergantung jalan yang kita pilih sendiri.
Minat belajarpun sebenarnya akan selalu muncul sejalan dengan tuntutan kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan pokok. Dalam konteks ini, hal yang perlu ditegaskan adalah belajar itu bukan berarti duduk dan mendengarkan penjelasan seperti mayoritas sistem yang ada dalam pendidikan formal kita. Belajar dalam arti sebenarnya adalah menuntut ilmu. Ilmu bisa kita dapatkan kapanpun dan dimanapun.
Gaya hidup yang carut marut pada anak-anak anti kemapanan tidak menjadi pembatas pengembangan kreativitas mereka. Gaya hidup carut-marut tersebut justru menjadi sebuah pembelajaran hidup dan motivasi untuk terus berkarya. Pengembangan kreativitas melalui pembelajaran otodidak terus dilakukan untuk membuktikan kemerdekaan mereka yang berdasarkan pada hidup mandiri. Mereka percaya bahwa kreativitas bukanlah bawaan dari lahir, kreativitas merupakan suatu hal yang harus diupayakan dengan pembelajaran dan kemauan yang tinggi sehingga kreativitas mampu menjadi bekal hidup MERDEKA.  


`nTV`

Sabtu, 31 Desember 2011

Nafasku dalam Fatamorgana


Helai-helai daun berguguran, hanya tinggal batang dan ranting-ranting yang berusaha untuk tetap berdiri tegak meskipun lambat laun akan menjadi kurus kering. Yogyakarta, 12 Juli 1992. Senyap menaungi sebuah ruang tunggu yang penuh penantian namun kebisingan menerkam tajam di ruang beradu nyawa. Delapan wanita paruh baya yang mengenakan seragam putih-putih sibuk membantu mengeluarkanku dari rahim Mama. Teriakan perih terdengar menusuk gendang telinga, memekakan rasa.
            “Selamat Pak, putra anda beserta ibunya selamat. Putra anda sehat dengan berat 3,5 kg.”kata Dokter kepada Papaku.
            Seorang dokter keluar dari ruang peraduan nyawa masih dengan sarung tangan merahnya, membuang senyuman yang menyiram kalbu. Segala kecemasan berubah drastis menjadi lautan kegembiraan. Saat itulah pertama kalinya kuhirup udara segar RS Dr. Sardjito kota Jogjakarta. Aku terlahir sempurna dengan wajah tampan.
            Setelah kudapat bernafas sempurna,aku pulang kerumah tentunya bersama orangtuaku. Di rumah, segalanya telah disiapkan kakak yang menanti kepulanganku. Rupanya kedatanganku sangat dinanti sehingga disambut dengan penuh kehangatan. Yah, pada dasarnya yang namanya orangtua selalu ingin yang terbaik. Sesuai dengan adat Jawa, diadakan syukuran dan pemberian nama dengan tradisi “Aqiqah“. RM Nino Virdamansyah nama keren yang diberikan orangtuaku. Panggil aja aku Nino G Subastian, ye.... itukan Vino! jauh kali. Kok jadi narsis gini ya......?
            Wah.... dirumah ada pesta, itu pestaku lho... Orang kaya! biasa dong begituan. Emang sih aku nggak tahu, tapi Mama cerita lewat album kenangan dan aku tetep seneng kok! Menurut adat Jawa, saat “Aqiqah“ rambutku dipangkas oleh Orangtuaku dan banyak deh sampai gundul. Terus dipotret deh, nih fotonya! Bayangin aja aku lucu seperti Boboho, tapi sekarang cakep mirip Her Junot, hehehe !
            Mamaku “protectif “ banget lho....! jadi, waktu aku masih kecil segala benda yang kira-kira membahayakanku dijauhkan termasuk “pets animals“ yang dapat mengganggu kesehatanku. Perkembanganku sangat diawasi dan pertumbuhanku berjalan cepat hingga saat usiaku menginjak delapan bulan, mulutku telah bercecap kata demi kata. Aku yakin saat itu mereka bangga padaku. Ih, ngapain diceritain nggak penting banget ya?
Yogyakarta, 12 Juli 1994. Saat mentari berganti bintang dan rembulan, sunyi menghantarkanku ke alam mimpi. Ketika Papa sedang tugas di luar kota, tinggallah Aku, Mama, dan Kakakku. Entah suhu apa yang membuat tubuhku mendadak panas, hingga aku kejang-kejang. Kesunyianpun terpecah oleh teriakkan ”histeris“ mereka. Aku dilarikan ke Rumah Sakit dengan mobil kecepatan penuh ala Valentino Rossi. Seorang Valentino Rossi dengan kecepatan super hingga  memenangkan ”MottoGP“, kecepatanya nggak beda jauh kok sama kakakku yang menggunakan mobil. Namanya juga orang panik, nggak peduli statusnya sebagai cewek. Wah... kembalilah aku di ruang beradu nyawa.
Seorang dokter cantik keluar membawa berita entah duka maupun suka akhirnya muncul juga. Tibalah saat yang ditunggu! Dengan penuh harap bercampur cemas, takut dan bimbang, Mama menutup mata mendengarkan berita dari Dokter Erna.
“Ibu sabar yah... menerima cobaan ini! Yakinlah dan percayalah, janganlah pernah menyerah!  Semua pasti ada jalan keluarnya. Kita harus terus berusaha, tetapi Tuhan-lah yang memutuskan!“
 Wajah Mama berubah pucat pasi. Sungai airmata mengalir dan mengalir semakin deras, menghapus perona merah pipinya.
“Kenapa Tuhan memberikan cobaan kepadamu seberat ini, Nak? Sungguh malang nasibmu. Pasti Papa sedih begitu pulang nanti! Mama nggak bisa membayangkan bagaimana masa depanmu kelak?“ (Tangisan Mama bersama Kakak, mengisak duka nan lara). Dengan sekuat hati Mama mengambil telepon genggam dari sakunya dan menghubungi nomor Papa.
” bengawan solo riwayatmu dulu  Air mengalir sampai jauh.“(suara telepon Papa berbunyi di atas meja, saat Papa akan mematikan komputer kerjanya)
” Hallo , Assalamu’alaikum. Kenapa Ma, sudah kangen ya?“
” Pa, ini masalah serius. Nino masuk Rumah Sakit.“ kata Mama.
” Ada apa Ma!“ Papa kaget.
Akhirnya Mama menceritakan semua hingga tidak lagi dapat membendung air mata. Dengan ketegaranya, Papa hanya menahan nafas dan tidak kuasa meneteskan air mata. Papa menyuruh Mama untuk bersabar dan menunggunya hingga saat pulang nanti, karena Papa benar-benar tidak bisa pulang sekarang, bukan karena tidak mementingkanku tapi karena keadaan disana.
Meski harapan tercecap kian meninggi, manis bahkan sangat manis dalam doa. Kini jatuh tanpa lelah, terbang penuh keikhlasan. Mungkin sudah jalan hidupku seperti ini, semua yang diharapkan orangtuaku tidaklah nyata. Mungkin karena aku tidak patuh pada-Nya, atau karena aku tidak taat pada-Nya, tapi yang pasti Orangtuaku tetap berusaha keras demi kesembuhanku. Dengan doa dan usaha, mereka membawaku kemanapun untuk berobat.
Daya tahan tubuhku kian menurun, badanku sering kali terasa panas bahkan seringkali tubuhku kejang-kejang. Lidahku serasa membatu, sulit untuk bercecap. Tulang dikakiku sangat rawan dan lambat laun telapak kakiku membengkok kebelakang. Sementara itu,  menompang tubuhku sendiri tidaklah  sanggup. Itu semua semakin diperparah dengan keadaan otakku yang tak dapat fokus menanggapi pembicaraan orang lain. Saat itulah aku difonis lumpuh dan kumiliki dunia fatamorgana. Aku hanya terbaring lemas tak berdaya bersama penyakit yang kuderita.
            “Nino sayang, Papa pulang bawa oleh-oleh nak!“teriak papaku.
            ”Eh, Papa sudah pulang.“ sahut mama.
            “Kring...kring......kring.....“
            “Bentar ya Pa...?“
            Yogyakarta, 13 Juli 1994. Belum sempat menyambut kedatangan Papa, ada saja telepon mengganggu. Sudah ganggu, bawa berita hantu lagi.  Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Mungkin kata itu cocok untuk keluargaku. Cobaan atas derita penyakitku belum selesai, kini ditambah perusahaan Papaku yang bangkrut. Akhirnya ada jalan juga, meskipun membuat jantung Papaku sedikit kambuh.
            “Bagaimana kita dapat uang Pa...?“ Isak tangis berderai keluar.
            “Sabar ya Ma... kita jalani saja, pasti ada jalan!“
            Benar-benar di luar dugaan, semua yang terjadi tidak diinginkan tapi itulah kenyataanya. Bukan lagi kecewa yang dirasakan orangtuaku, namun perih yang mengiris meratapi cobaan ini. Air mata tak kuasa mereka tahan. Hatikupun ikut menangis bersama deritaku, derita semua. Semua awalkan pasti ada akhir, tapi kapan akhir itu datang? Akhir yang menjemput sebuah tangis haru kebahagiaan. Akhir yang memendam duka, menghapus lara dan membawa suka.
            ”If  I die tomorrow, I will be allright because I believe, there after we go, spirit caries on.“
            Lagu ”Dream Theater“ terdengar dalam, dari kamar Kakakku. Hanya doa yang selalu terpancar untukku. Aku merasa berdosa karena menambah beban orangtua. Kesibukan Mamapun bertambah karena setiap minggunya, harus menjalani terapi dua kali di rumah sakit tempatku dilahirkan. Berat dan lelah tidaklah dirasakannya, demi kesembuhanku. Buah hasil terapi tidak terlalu banyak. Tapi karenanya aku dapat berbicara meski gagap.
            Lelah ”No Way“, kata Mamaku. Memang sih... tubuhku nggak terlalu berat. Maklum masih bayi, tapi bolak-balik rumah sakitkan lumayan bisa bakar lemak, butuh kalori dan energi lagi. Tubuhnya semakin mungil, walau kecil tapi tidak seperti “upil“ lho..... Semangat yang terpancar tidak pernah padam, seperti lagunya ”spirit caries on“, selalu  semangat sampai batas terakhir hidup tiba.
            Sementara itu Papaku terus bekerja keras menjadi seorang wiraswasta. Dia buka sebuah warung makan lumayan besar. Memang modal awalnya pinjam dari Bank. Yah... sambil menyelam minum air, tapi nggak mati tenggelam lho! Semuanya kita bangun kembali, dari awal. ”All start is difficult but tomorrow must be better“, itulah mottonya.
            “Kalau ke Roma aja ada seribu jalan, kenapa tidak dengan kehidupanku!    ”Kukan tetap berjuang mencari jalan menuju bintang yang terang,“ begitulah kata Papaku.
            Yogyakarta, 12 Juli 1999. Hari ulang tahunku yang sungguh-sungguh membosankan. Aku tidak senang dengan bulan dan tanggal ini. Menurutku, ini bulan sial karena di bulan inilah aku mengidap penyakit itu. Gara-garanya,  selama tujuh tahun aku hanya tertidur di atas ranjang.
            Hanya mainan yang selalu dihadiahkan papa, teman setiaku. Ketekunan dan kesabaran orangtuaku, membawa perubahan yang sangat besar. Kudapat sedikit demi sedikit bergerak. Kukeluarkan seluruh tenagaku untuk bergerak dan bergerak, hingga akhirnya kudapat duduk dan merangkak.
            Uh..... sial, masak selama tujuh tahun kemajuanku cuma duduk, merangkak dan bicara gagap. Searusnya aku berprestasi, menuangkan kreatifitas dan imajinasiku. Pasti aku disegani jika aku normal. Ya sudahlah, beginilah adanya.......
            Memang, tidak semua yang kita inginkan terwujud. Namun aku yakin bahwa segala sesuatu yang terwujud itulah yang terbaik. Yah... meskipun nggak kita inginkan. Aku yakin Tuhan memberi kita cobaan, pasti ada jalan keluarnya. Tubuhku kian rentan, zat-zat antibiotik yang ada dalam tubuhku tak mampu mengalahkan penyakit yang menyerangku. Tapi semangatku tak pernah mengibarkan bendera putih. Keyakinankupun semakin tajam, aku ingin sembuh. Aku ingin bisa berdiri tegak, menggapai mimpi biru yang selalu berderu.                                                                                   
        Sesedikit apapun uang yang orangtuaku dapat, tak mematahkan semangat untuk kesembuhanku. Mereka rela tak makan untuk membeli obat rutin dan terapi perkembangan otakku. Memang nggak murah, tapi terbukti aku bisa nuliskan. Berbeda dengan kakakku yang tak terbiasa hidup susah. Dia sangat manja dan seenaknya sendiri. Hebat ...! Orangtuaku menghadapinya dengan kesabaran, mereka tetap tersenyum dalam luka. Luka yang semakin dalam karenanya.
            Meskipun Aku terlahir dalam dua dunia, aku tetap selalu bersyukur pada Allah. Aku tetap beruntung, punya orangtua dan saudara serta banyak orang yang sayang dan perhatian. Yah... nggak seperti yang lainnya yang ditelantarkan orangtua sendiri karena kekurangan pada dirinya. Banyak sekali aku temui teman-temanku yang berada tak jauh dari rumahku. Rumahkukan deket banget sama panti asuhan. Mereka nggak pernah dapat kasih sayang yang utuh.
            Yogyakarta, 21 Juli 2000. Ternyata hipotesisku salah. Nggak seharusnya kukatakan bulan ini penuh kesialan. Kudiberi kesempatan untuk merasakan bangku sekolah. Banyak jalan terjal berliku yang kutempuh, hingga akhirnya aku sekolah di tempat khusus penyandang cacat. Sekolahku Internasional lho, jadi aku bisa menggunakan Bahasa Internasional. Mungkin jika kamu jadi aku, akan minder berada di sekolah ”elite“. Padahal aku sendiri ”elite“ lho.... Maklumlah aku “elite“ tapi dalam arti yang berbeda. Kalau aku sih elitnya ekonomi sulit.“Hehehe.......“
                                                                                   
                                                                                   
                                                                                    Yogyakarta, August  82000
            Dear Diary,
            Oh God, I needed a miracle. A miracle which brong me to be better. I always hope and hope, when was my miracle come ? what was just my dream? a dream which never came true. Aku tahu nggak semua mimpi itu nyata. Tapi aku ingin, bunga mimpi yang telah kau mekarkan dalam tidur lelapku menjadi nyata. Mimpi yang membawaku menapaki jalan dunia dan mengajakku berbicara.  I belive that you hearded me. I waited your miracle. I was promise that I’ll always pray for you. I’ll pray to my parents, too. I want made them be happy.
                                                                                    * Nino love Mama-Papa*     
           
            Hanya untaian beberapa kata yang dapat kutulis dalam buku harian ini. Segitu aja otakku harus bekerja sangat keras. Bahasa Inggris aja masih “semrawut“. Yah... namanya juga belajar. Semua itu bisa kulakukan kalau aku sedang berada dalam dunia nyata, bukan dunia fatamorganaku. What a fantastic ? suatu hari ada seorang suster datang ke rumahku, menawarkan sebuah bantuan. ”Whow..... this is a dream come true !“
            Yogyakarta, 12 September 2000. Aku dapat biaya operasi gratis dari sebuah yayasan rehabilitasi. Orangtuaku tinggal bayar obat dan uang jalan. Puji syukur Tuhan, Kau beri wawasan luas orangtuaku hingga Kau beri jalan untukku, meringankan beban banget deh. Aku tidak bisa ungkapkan semua ini lewat kata-kata. Rasanya seneng banget,  seperti memenangkan undian rumah mewah beserta isinya. Aaaaaaaa......, rasanya pengen teriak-teriak. Terimakasih Tuhan, kau datangkan keajaiban untukku.
              Yogyakarta, 19 September 2000. Baru satu minggu yang lalu dikasih tahu, sekarang sudah disuruh “cek up“ . Meski harus bolos tapi O.K-lah, buat kesembuhanku apasih yang nggak? “first step“ pengobatan yaitu operasi tulang kakiku yang bengkok. Itu tepat satu minggu ke depan. Wah... ”deg-degkan“ nih. Kira-kira kakiku bakalan gimana ya? Operasinya berhasil tidak nih? Optimis aja deach ! pokoknya chayo.......!
             Solo, 2 September 2000, wauw..... tidak perlu ribet daftar, langsung masuk ruangan di RS Ortopedi Dr. Suharso di Solo. Sekali-kali jadi orang elite dikit, masuk rumah sakit khusus tulang yang biasanya digunain buat orang penting. Tapi mereka di kelas satu sedangkan aku di kelas dua. Sebenernya sih di kelas tiga tapi ruang kelas tiga, sudah penuh. Memang benar ya orang yang beruntung dapat mengalahkan orang pinter. Oh yah, hari ini juga orangtuaku menandatangani berkas persetujuan operasi.
            Mentari tak tampak di dalam lorong yang masih sunyi pagi ini. Perutku berdendang, dari kemarin belum diisi.  Kuhanya bisa membiarkannya berdendang, karena aku puasa untuk persiapan operasi. Dalam sekejap hatiku terhentak karena aku berada dalam sebuah ruangan yang terdapat mesin yang menyerupai mesin waktu. Ruangan ajaib yang dapat memperlihatkan organ dalamku. Setelah organ dalamku tlah di potret, kuberbaring di keranjang yang bergerak otomatis dan kepalaku seperti di lem. Rambutku lengket dan sulit kubuka mata, aku lagi rekam otak .
            Solo, 22 September 2000. Kumasuki ruang operasi. Selama dua belas jam berturut-turut kumenjalani empat kali operasi. Lewat monitar di depan ruang tunggu yang banjir akan air mata, mereka saksikan pembelahan kakiku. Pancaran doa terpantul mengalir bersama tetesan darahku. Tulang rawan kakiku tlah dibelokkan kejalan sebenarnya. Operasi selesai sudah, kini kakiku saatnya “digips“. Kain putih melingkar rapi oleh tangan handalnya, menjadikan kakiku seperti mumi.
            ”Bapak-Ibu, kita tunggu Nino sadar. Anda berdoa saja, semoga operasinya berhasil. Apabila telah sadar, jangan di beri makan ataupun minum karena dapat berakibat fatal. Tunggu sekitar empat jam, baru boleh diberi.“
            Seorang dokter menjelaskan pada orangtuaku dan mereka hanya mengangguk-angguk. Tapi mereka bukan burung kutilang lho... Awas aja ngatain orangtuaku burung kutilang.
            ”Krompyang......“
            ”Ma....Mama.....“
            Kujatuhkan gelas alumunium di dekat tempat tidurku saat ingin meraihnya, kutersadar. Kepalaku sakit sekali, seluruh tubuhku panas. Tenggorokkanku seperti padang pasir, kering kekurangan air. Namun, Mama menyuruhku menahan empat jam lagi. Yah, dikuat-kuatin deh. Lagian aku juga nggak bakal mati kekeringan kok! Itukan udah prosedur dokter.        
            Yogyakarta, 3 Oktober 2000. Kupulang kerumah setelah sebulan berada di Solo. Gemericik air di kolam, bersama semilir angin menyejukkan kalbu. Tenang, damai bersama dengan bahagia. Meski satu setengah bulan lagi kuharus kembali ke Solo, kuyakin bahwa aku akan lebih baik dan harus lebih baik. ”Tomorrow must be better“, itulah yang kumau. Mama tetap berjuang lagi, bolak-balik terapi  dari Jogja ke yayasan, di Kaliurang. Begitupun aku harus berjuang lagi, melepas platina yang tertancap di kakiku. Wah........ kalau di jual pasti mahal, mata duitan nih....!
            Yogyakarta, 19 September 2000. Tubuhku kembali terlentang di ruang peraduan nyawa. Pelepasan delapan platina di kakiku, diperkirakan akan selesai selama lebih dari delapan jam. Tim hijau telah siap. Tiga jam terlewati, lima jam terlewati, tujuh jam terlewati, dan saat detik terakhir ke delapan jam tiba-tiba kuteriak.
            ”Aw.......... sakit!“
            “Dokter, sepertinya obat biusnya sudah habis, pasien tersadar. Bagaimana selanjutnya? sahut suster.“
            Belum selesai tuntas, kutersadar. Kulihat tim hijau panik, namun mereka tetap tenang. Kurasakan sakitnya saat kakiku baru di jahit. Profesional memang, menyelesaikan masalah dengan pikiran tenang dan hasilnya OK-lah.
            ”Adik sabar ya....! bentar lagi juga selesai. Tahan sakitnya, hanya sebentar tapi manfaatnyakan untuk selamanya.“ Bujuk dokter.
            Yogyakarta, 29 September 2000. Perang telah usai dan akulah pemenangnya. Kubangga dengan keyakinanku namun, perjuangan belum berakhir sampai sini. Setelah pembenahan kakiku berhasil, kuharus tetap menjalani terapi selama setahun. Aku ingin dapat berjalan sebelum tahun baru. Kuberharap sebelum tahun baru, luka bekas jahitan di kaki kering dan sembuh. Aku harus bisa, pokoknya harus karena kuingin merayakan tahun baru.
            Lambat laun kudapat menompang badanku. Kudapat duduk tegak, berdiri dan sedikit berbicara. Banyak teman-teman yang ingin bermain denganku, namun aku tidak bisa terus bermain dengan mereka. Akukan punya dua dunia yang tak mereka miliki. Aku punya dunia nyata dan dunia fatamorgana. Parahnya lagi, duniaku sering condong dalam dunia fatamorgana yang tak mereka mengerti. Meski kudapat melihat, bercecap gagap, mendengar dan berjalan, mereka tetap tak mengerti. Aku dalam duniaku tanpa Papa dan Mama, berjalan sendiri semauku, berucap pun sendiri tanpa kendaliku, dan berbuat sesuai kehendakku.  Sering terlihat ku sendiri terlelap dalam dunia yang tidak bertemu lagi kesadaran bahwa di sisiku ada Mama, Papa, Keluargaku, dan orang-orang di sekelilingku.  
            Yogyakarta, 31 Desember 2000. Akhirnya kurayakan tahun baru dengan teman sekolah. Aku tetaplah aku, seorang Nino yang mempunyai dua dunia. Hanya teman-teman sekolahku yang dapat masuk dan bernaung dalam duniaku. Merekalah yang dapat bercengkraman, berbicara dan bercanda tawa denganku. Yah........ mereka satu operatorlah sama aku, jadi apa-apa nyambung. Jika kusedang bernaung dalam dunia nyata, selalu kutulis buku harian sehingga kudapat mengenang dunia nyataku. 
                                                                                   
                                                                                    Yogyakarta, 1 januari 2001
            Dear diary,
            Terima kasih Tuhan, karena kau dengarkan doaku. Kini kudapat berjalan dan bermain. Meskipun kau berikanku suatu dunia fatamorgana, aku tetap bersyukur kepadamu. Aku bersyukur karena kau juga berikanku kesempatan untuk bernaung dalam dunia nyata meski hanya sekejap. Toh, aku tetap bisa bernafas dalam dunia fatamorgana. Terkadang kuhampa karena tak ada yang mengerti duniaku. Kurasakan kedamaian meski dalam fatamorgana, aku tidak pernah merana.
           
            Yogyakarta, 24 Mei 2008. Aku tetap berdiri tegak di balik duniamu namun dengan duniaku sendiri aku tidak mengenalnya. Dunia fatamorgana yang tak kau mengerti. Mengertilah, aku tetap bernafas dalam dunia ini. Meski dalam jalanku, aku juga bernaung di dalam dunia yang hanya bisa aku jejaki sendiri. Buku harian itulah yang menjadi saksi nyata bahwa kudapat bernaung dalam dunia nyata. Namun, setiap helai nafasku dalam fatamorgana. Fatamorgana kehidupan yang tampak tapi tidak dapat kau masuki dan tidak pula kau ikuti liku jalannya.
                                                                                   
                                                                                    Yogyakarta, 27 Mei 2008
            Dear Diary
            Terima kasih Tuhan, Kau berikanku kesempatan untuk dapat memijakkan kaki, melewati aspal dan menggapai mimpi. Mungkin belum semua yang kumau terwujud. Namun semua yang terwujud tlah cukup membahagiakanku. Terima kasih karena pada pagi ini, kau berikanku kesempatan untuk bernaung dalam dunia nyata. Kuingat, bahwa pada pagi ini kau jadikan bumiku menari-nari. Tarian yang mengajak semua penghuni rumah beserta isinya ikut menari. Aku bersyukur karena tarian yang kau hadirkan tak sampai mengeluarkan air liur. Air liur yang dapat menyapu kita semua.              
                                                                                                *Nino untuk semua*
           
            Segala sesuatu yang kuinginkan belum tercapai tapi yang tidak kuinginkan malah tercapai. Kalau ingat kalimat itu, jawabanku tetap sama mungkin itulah yang terbaik walau tidak kita inginkan. Semua hasrat, kemauan, keyakinan dan bunga tidur yang selalu mekar telah kucapai. Memang benar ya kata William Shakespear, hasrat dan kemauan itu tenaga paling besar yang melebihi uang serta kekuasaan. Penyakit yang pernah bernaung dalam tubuhku, mati melawan keyakinan, kemauan, perjuangan dan jalan Allah.
                                                                       
                                                                                   
                                                                                    Yogyakarta, 29 Mei 2008
           
            Dear Diary
            Hanya sekejap kuberada dalam duniamu. Aku tetaplah aku yang bernafas dalam fatamorgana, dunia nyata yang tidak dapat kau lihat dari segala sisi. Dunia yang kau anggap maya yang tidak kau mengerti. Dunia maya yang tidak dapat kau naungi. Dunia imajinasi yang tetap bersamaku memijakkan kaki di bumi hingga terbang ke langit lepas kelak.  Masa lalu adalah kenangan, semua yang pernah aku, keluargaku dan kita semua lakukan serta perjuangkan adalah suatu proses belajar. Proses belajar yang menyading keberhasilan.
            All start is difficult, benar juga ya kata Papa!  Semua awal memang sulit tapi jika kita jalani, ada kok jalan keluarnya. Jadi tomorrow must be better than yesterday. Banyak orang yang dekat dengan keberhasilan ketika ia menyerah, Thomas Alva Edison aja banyak mengalami kegagalan sebelum keberhasilan tiba.       
Diary, aku senang semua perjuangan, pengorbanan dan keyakinan serta kesabaran yang kulakukan berbuah manis, meskipun jalan masa laluku pahit. Tapi tidak selamanya pahit tetap menjadi pahit, manis menjadi manis dan asam tetap menjadi asam. Wah kurang ditambah asin udah jadi  nano-nano yah... Semua bisa berubah menjadi sesuatu yang tidak kita duga. Pahit bisa jadi maniskan, seperti jamu yang kamu minum. Pahit di lidah manis di badan.
            Dunia ini seperti roda yang berputar ? Terkadang di bawah kadang juga di atas atau di samping. Segala sesuatu itu hanya ada dua pilihan yang saling berlawanan. Ada kebaikan ada juga kejahatan, ada kaya ada juga miskin, berhasil-gagal, optimis-pesimis. Ehm.. semuanya berpasangan saling melengkapi dan menyempurnakan.
             Apa yang ada di belakang dan di depan kita hanyalah hal kecil dibanding dengan apa yang ada dalam diri kita. Be your self. Mungkin ini diary terakhirku, akan kutapaki jalan ini apa adanya. Meski aku penyandang autis, kukan tetap berjalan dengan apa yang kusandang bersama nafasku dalam fatamorgana.......
                                                                       
                                                                                   RM Nino Virdamansyah

 (langkah pena 2008; cerita tanpa konsep.mentah)
Happy New Years 2012
-nTV-

Rabu, 28 Desember 2011

IMAGINER


Kebanyakan orang bilang kehidupan ini selalu berputar, kadang di atas kadang di bawah. Namun tidak denganku, kehidupanku terjungkal menuju sebuah jurang yang teramat dalam. Setiap hari, kuhanya bisa termenung dan terdiam pasrah mendengar alunan lagu yang dilantunkan orangtuaku.
Nadanya hanya itu-itu saja. Kalau disubtitusikan dengan dunia musik, lagu yang dibawakan orangtuaku sebanding dengan lagu-lagu death metal. Lagu yang bisa bikin pusing, memekakan telinga dan menaikan tekanan darah bagi orang-orang yang tidak biasa mendengarnya.
Tak pernah kubayangkan, sesuatu yang dulunya selalu indah, tenang dan damai semuanya hancur hanya karena sebuah permainan cinta. Slogan rumahku istanahku sekarang nggak berarti lagi bagiku. Harta ternyata bukanlah kunci pembawa kebahagiaan. Kasih sayanglah yang dapat menghantarkan kita menuju kebahagiaan.
Ah tak apalah rumahku jadi nerakaku, yang penting aku nggak masuk kedalam lubang neraka dunia yaitu drug. Pokonya say no to drug! Aku janji, meskipun keadaan rumah “semrawut“, tak akan kulampiaskan dalam suatu kemunafikan.
Bekerja sama dengan pamanku yang tak lain adalah seorang polisi, aku diberi kepercayaan untuk melakukan pekerjaan yang beresiko tinggi. Aku menyebutnya Ghost for Druger. Memang sedikit ngawur sih namanya. Jadi akulah adalah setan yang di takuti druger.
 Bagiku, resiko itu tantangan menyenangkan dan di situlah sensasinya. I had broken home so, tak ada yang perlu kupedulikan selain melihat kebahagiaan dan ketenangan orang-orang yang ada di sekitarku. Kapan generasi ini maju jika tidak dibiasakan berjuang menghadapi kehidupan yang keras sejak dini. Usia bukanlah hambatan untuk melakukan suatu hal besar yang berguna.
Pagi ini, cuacanya mampu melepaskan semua bayangan hitam kelam dalam hidupku.
“Eh anak mami sekarang sudah berubah ya, nggak biasanya kamu bawa mobil sendiri.“Cetus Sesil sahabatku dengan nada mencibir.
  “Karena aku akan menjalankan misiku. Sepulang sekolah aku mau buntutin kakakku lantas mengambil kesempatan dalam kesempitan. Alasannya tahu sendirikan kemarin Rere bilang apa?“Jawabku.
“Owh iya karena kakakmu menjadi korban penyalahgunaan narkoba itu ya?“Sahutnya.
 “Iya, belum lama ini. Radit yang memberitahuku. Awalnya aku sih cuek aja, mana mungkin kak Vina seperti itu. Dia-kan lagi sibuk ngerjain tugas kuliahnya. Eh beberapa saat kemudian aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, dengan santainya lagi ngepulin asap rokok di angkringan kali code.“Jawabku lirih.
Bel pulang telah berbunyi nyaring sekali. Tak sabar aku ingin menuju ke lokasi. Kukemudikan mobil dengan kecepatan penuh. Namun belum lama kumengemudi, mataku tertuju pada salah satu restauran. Akupun lekas memijak rem mendadak. Kulihat mama sedang have lunch. Dengan girang aku keluar dari mobil.
“Dalam hati aku berkata, wah asyik makan gratis lengkap sama ortu. Belum sempat sampai tujuan, kakiku enggan melangkah, langsung kupalingkan wajahku.
“Kukira dengan papa, ternyata.....?“
Akupun langsung tancap gas. Batinku menjerit, hatiku menangis. Kalau seperti ini, ingin kuikuti jejak kak Vina. Tapi itu juga percuma. Semakin menyakitkan karena sama saja dengan bunuh diri secara perlahan.
Di dalam kerapuhan hatiku, aku tetap bersikeras mengembalikan kakakku di dalam keluargaku. Aku yakin ada sepucuk kebahagiaan dalam hidup ini. Beberapa saat kemudian kulihat segerombolan anak muda. Wah, inilah saatnya...
Akupun mulai memainkan strategi A yaitu menjebaknya dengan menelpon terlebih dahulu lantas memberinya iming-iming uang selanjutnya menyekapnya sekuat tenaga dengan borgol yang kupinjam dari paman. Setelah itu, gantian paman yang bertindak. Tugasku berakhir dengan membawa kak Vina ke pusat Rehabilitasi.
Dag dig dug der....! Jantungku tak terkendali. Kak Vina mulai mendekati mobilku. Tanpa curiga dia masuk mobil dan akupun melancarkan aksiku memborgol tangannya saat dia membelakangiku.
 Dia berteriak, tak lama kemudian teman-temannya mendengar. Akupun bergegas menekan tombol otomatis penutup plat nomor mobilku biar nggak jadi incaran. Tanpa pikir panjang kutancap gas.
Mobil melaju dengan kecepatan penuh. Kakakku terus berteriak hingga membuat pikiranku semakin balau. Di tengah perjalanan, semua masalah membayang-bayangi hingga membuyarkan konsentrasiku. Bayangan mama, papa, teriakkan kak Vina. Akupun berteriak untuk meluapkan semuanya sambil menambah kecepatan mobil. Haaarrrgghttt.........!!!!!!
“Brakk..........
 “Sebenarnya apa sih yang kamu pikirkan? Kelihatannya diam dan memperhatikan kedepan namun ternyata pikiran ketempat lain? Tak usah banyak alasan kamu, nanti temui saya di ruang BK waktu istirahat. Sekarang, silahkan belajar diperpustakaan saja! Khusus hari ini tidak usah ikut pelajaran saya!“
Seorang guru Matematika memukul mejaku dan mengeluarkan semburannya. Aku hanya bisa memasang tampang bego. Dengan pasrah akupun keluar. Batinku terus menggerutu menyalahkan diriku sendiri.
Bodoh banget sih aku. Kenapa tadi tidak melawan? Kalau membantah sedikitkan masih bisa berada didalam kelas. Tidak seperti sekarang, kelontang-kelantung kesana-kemari sendirian seperti bocah ilang. Huh........!!
***
Angin yang bertiup kencang, tak sebanding dengan cuaca yang ada. Anginnya sejuk tapi kok udaranya panas. Huh..... membuat tubuh nggak stabil aja. Belum lagi keadaan rumah yang “gersang” (gerah merangsang). Gila, pikiranku semakin nggak terarah semenjak cuaca berganti. Mungkin juga karena sudah semakin terjajah dengan yang namanya teknologi.
Kebetulan ini malam adalah malam minggu. Malam yang menurut banyak orang adalah malam spesial. Kalau menurutku sih, malam ini biasa aja. Rumahku sepi seperti makam, ingin keluar malas. Akhirnya, kuputuskan untuk duduk di ruang tamu sendirian memandang pemandangan di luar rumah melalui jendela kaca yang tembus dari dalam.
 Terdengar berita di TV nasional yang kubiarkan menyala tentang era global yang dapat menjadi setan-malaikat generasi muda negara kita. Kuterdiam, terhanyut dan terenyuh pada suatu hal yang selalu kuimpikan. Hal yang selalu membawaku dalam imajinasi.
Hemm..... Negara ini, negara yang berkharisma, kaya akan kebudayaan, sumber daya alam dan terkenal akan keramahtamahan. Semua itu dapat dimanfaatkan dan dijadikan aset untuk memajukan negara ini. Sayangnya Sumber Daya Manusianya yang belum mampu menjangkaunya.
Apalagi sekarang ini, moral Negara ini semakin terancam dengan musuh dalam selimut yaitu teknologi. Gaya hidup hedonismepun semakin mewabah. Wah, pasti jadwalku padat sekali nih karena harus bekerja keras untuk mensosialisasikan tentang sikap antisipastif akan ancaman global khususnya untuk generasi muda kota Yogyakarta tentunya.
Fiuh......... Setiap pulang dari sekolah langsung berangkat ke Carpe Diem School. Sebuah lembaga pendidikan di Jogjakarta yang program belajarnya hampir menyerupai sekolah pada umumnya bimbingan belajar namun programnya lebih komplek. Di sini kita diberi keleluasaan untuk mengembangkan bakat sesuai keinginan kita. Ya.... bisa dibilang, Justice for Liberate Education. Untuk masuk sekolah ini, harus melalui proses yang rumit. Para siswanya kebanyakan anak-anak broken home yang tetap berprestasi.
Sejarah Carpe Diem School sangat simple ternyata. Intinya, kata Carpe Diem yang berasal dari bahasa Yunani dan bermakna raihlah kesempatan itu diambil karena keberhasilan Bapak Pendirinya yaitu Alm Prof Dr Joko Adore sepulang study banding dari kota Roma Italia. Menurut sejarahnya, sebelum pulang menuju Indonesia, orang-orang di sana selalu mencetuskan kata carpe diem berkali-kali. Itulah yang membuatnya terinspirasi untuk mendirikan Carpe Diem School.  
Di sekolah ini, aku terpilih menjadi ketua Organisasi Siswa sehingga harus aktif, cekatan, ulet dan terampil. Hari ini akan diadakan rapat OSIS dan aku yang akan memimpinnya. Namun, entah kenapa dari tadi perasaanku tidak tenang.
Mulailah aku beraksi mempresentasikan  program kerjaku tentang sosialisasi program cinta budaya berupa Parodi Budaya Pancaroba. Maksudnya adalah sebuah parodi budaya peralihan dari budaya tradisional menuju kebudayaan modern.
Hal tersebut menggambarkan tentang duplikasi jaman yang berbeda namun tetap bisa koheren. Intinya kita harus selalu selektif dalam menyaring pengaruh polusi budaya era global. Jadi, kita tetap harus berkreasi untuk menciptakn sesuatu yang baru yang dapat merubah citra kebudayaan kita menjadi lebih baik lagi tanpa melupakan dan meninggalkan kebudayaan tradisional.
 Parodi ini akan diisi dengan pembacaan puisi lama, puisi modern, tarian lama, tarian modern, musik lama, musik modern dengan berbagai aliran seperti punk, rock, metal dan pop. Selain itu, berbagai pameran-pameran benda-benda tradisional dan modern seperti gerabah, batik dan lukisan serta foto-foto karya kita sendiri terpajang.
Tak lupa fantasia IPTEK yang telah berkembang pesat di negeri ini menjadi hidangan special dalam acara ini. Pengenalan teknologi canggih dan ramah lingkungan misalnya mobil hybrid yang ramah lingkungan karena bisa menekan jumlah emisi gas karbon yang keluar. Serta perkembangan ilmu pengetahuan sehingga terciptalah ide baru yaitu pertambangan minyak bumi less CO2. Pertambangan ini, menjebak CO2 di dalam tanah.
Semua icon dipadukan jadi satu meski dalam panggung yang berbeda-beda sehingga jikalau ada orang yang dari rumah hanya berniat menyaksikan salah satu pertunjukan misalnya lawak, pasti secara tidak langsung menyaksikan ataupun hanya sekilas melihat pertunjukan lain sehingga penasaran dan tertarik.
Meski perkembangan global yang ditonjolkan, bukan berarti kita meninggalkan nilai tradisionalisme. Di sini kita harus menyeimbangkan antara keduanya. Parodi Budaya tersebut bertajuk perpaduan dua jaman yang sama-sama menggelorakan jiwa sehingga dapat menyadarkan pengunjung bahwa kita juga harus selalu menengok kebelakang untuk memetik pelajaran dan menjadikannya bekal di masa depan. Dengan begitu orang-orang pasti tertarik datang.
“Halah, acara seperti itu nggak ada kerennya sama sekali. Ngapain kita ngurusin kebudayaan? Lha wong Amerika yang budayanya seperti Free seks, minum-minuman beralkhohol saja bisa maju kok. Nggak pengaruh........ Ngapain kita harus bersusah payah untuk mengubah moral kita? Moral itu nggak menjanjikan perubahan negara, apalagi kebudayaan. Shit!“
“Lhoh siapa bilang? Itu semua berpengaruh besar. Amerika tetap bisa maju meski seperti itu kelakuannya karena bisa dibilang itu adalah kebiasaan dari kebudayaan mereka dan mereka menjunjung tinggi kebudayaannya. Sedangkan itu bukan merupakan kebiasaan dari kebudayaan negara kita. kita. Kita mempunyai kebiasaan dan kebudayaan sendiri yang harus dijunjung tinggi. Bila kita menjunjung tinggi kebudayaan kita sendiri, Insya Allah kita bisa lebih maju dari negara-negara Barat.“
Aku mengelakkan pendapat temanku. Aku mendapat senyuman hangat.
Great...!“cetus guru pembimbingku.
Seusai rapat aku langsung bergegas pulang karena perasaanku nggak karuan.
“Aneh, harusnya akukan merasa senang?“Batinku.
Kunaiki sepeda motorku dengan perlahan melewati tikungan tajam depan sekolahku. Tapi sial, mobil yang berada di depanku mendadak berhenti. Aku berteriak sambil tetap mengerem.Namun tetap saja tabrakan tak dapat terelakkan.
“Gubrak“
“TANIYA BUKA PINTUNYA.........!!!!“
Suara mama, menggema hingga membangunkanku. Tak terasa ternyata sepulang kutertidur sekolah hingga larut malam bahkan belum sempat berganti pakaian.
Yah, begitulah aku. Taniya Aryaz, seorang cewek yang suka musik cadas, pemimpi dan kebal dengan yang namanya dimarahin. Celotehan itu makanan sehari-hariku dirumah, sekolah bahkan di tempat umum.
Akulah cewek istimewa yang bisa menuntun jalanku dan mengambil sebuah pelajaran hidup melalui imajinasiku. Aku akan selalu berimajinasi untuk mewujudkan semua cita dan asa. Menjaga negeri ini agar selalu berjaya karena aku-lah seorang IMAGINER.










-nTV-
(in memorian 2009)